Saat itu, saya selalu bermimpi untuk jadi orang kota. Membayangkan tinggal di Jakarta dengan suami yang tampan, dan kehidupan yang mapan. Tapi saya tidak pernah berani menceritakan mimpi tersebut pada siapapun. Karena saat itu saya takut ditertawakan.
Setiap malam saya selalu membayangkan. Seorang pria datang untuk menjemput saya. memakai kuda putih lengkap dengan topi koboi nya, lalu saya naik keatas kuda dan jalan-jalan bersamanya mengelilingi indahnya hamparan kebun teh dan suasana pedesaan.
Tapi kemudian saya sadar, kalau semua hal yang saya bayangkan, tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.
Sampai tiba pada suatu hari, Seorang lelaki datang menemui bapak. Menghadap bapak dengan sangat jantan, dengan keyakinan yang penuh dia berkata "ingin melamar saya jadi istrinya."
Sempat kaget, dan setengah tidak percaya. Tapi walaupun begitu saya tetap menerima lamarannya. Dengan keyakinan penuh. Saya yakin pria yang datang hari itu adalah sebuah jawaban dari doa-doa yang pernah saya panjatkan.
Enggak lama kemudian. Keluarga dari pria itu datang ke kampung, untuk membicarakan pernikahan. Beberapa minggu setelah itu, pernikahan pun, akhirnya dilaksanakan.
Alhamdulillah... pria itu sekarang resmi menjadi suami saya.
Setelah menikah saya diajak pindah ke Jakarta. Senangnya! karena impian saya untuk tinggal di kota akhirnya bisa terwujud.
Suami saya orangnya sangat baik, sangat penyayang, berhati lembut, dan sangat perhatian. Hampir semua permintaan yang saya ucapkan selalu dikabulkan. Seandainya dia sedang tidak mampu dia selalu bilang "nanti insyaallah ada rejeki nya." atau "Nanti diusahakan."
Saya diperlakukan bak seorang putri. Suami saya tidak pernah menuntut macam-macam, dia selalu membiarkan saya melakukan semua hal yang saya sukai. Menikah bersamanya adalah sebuah keberuntungan dalam hidup saya.
Tapi dalam kebahagian yang saya rasakan. Ada sesuatu yang masih mengganjal. Karena di usia pernikahan kami yang sudah menginjak 5 tahun. kami belum juga mendapat keturunan.
Saat itu saya minder, saya takut kalau enggak bisa kasih anak saya akan ditinggalkan. Sampai suatu hari saya mem
beranikan diri untuk bertanya.
"Bagaimana kalau seandainya kita tidak punya anak?" lalu suami menjawab "Anak bukan tujuan utama ku untuk menikah, karena niat ku menikah hanya untuk ibadah."
Sujud syukur ya Allah... Ternyata lelaki baik itu memang ada.
"Bagaimana kalau seandainya kita tidak punya anak?" lalu suami menjawab "Anak bukan tujuan utama ku untuk menikah, karena niat ku menikah hanya untuk ibadah."
Sujud syukur ya Allah... Ternyata lelaki baik itu memang ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar