Senin, 01 Mei 2017

MENIKAH UNTUK IBADAH

Saya hanyalah seorang gadis desa, yang lahir dari keluarga sederhana.  Tinggal di sebuah kampung terpencil, yang jauh sekali dari keramaian kota.

Saat itu, saya selalu bermimpi untuk jadi orang kota. Membayangkan tinggal di Jakarta dengan suami yang tampan, dan kehidupan yang mapan. Tapi saya tidak pernah berani  menceritakan mimpi tersebut pada siapapun. Karena saat itu saya takut ditertawakan.

Setiap malam saya selalu membayangkan. Seorang pria datang untuk menjemput saya. memakai kuda putih lengkap dengan topi koboi nya, lalu saya naik keatas kuda dan jalan-jalan bersamanya mengelilingi indahnya hamparan kebun teh dan suasana pedesaan. 

Tapi kemudian saya sadar, kalau semua hal yang saya bayangkan, tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.

Sampai tiba pada suatu hari, Seorang lelaki datang menemui bapak. Menghadap bapak dengan sangat jantan, dengan keyakinan  yang penuh dia berkata "ingin melamar saya jadi istrinya."

Sempat kaget, dan setengah tidak  percaya. Tapi walaupun begitu saya tetap menerima lamarannya. Dengan keyakinan penuh. Saya yakin pria yang datang hari itu adalah sebuah jawaban dari doa-doa yang pernah saya panjatkan.

Enggak lama kemudian. Keluarga dari pria itu datang ke kampung, untuk membicarakan pernikahan. Beberapa minggu setelah itu, pernikahan pun, akhirnya dilaksanakan. 

Alhamdulillah... pria itu sekarang resmi menjadi suami saya.

Setelah menikah saya diajak pindah ke Jakarta. Senangnya! karena impian saya untuk tinggal di kota akhirnya bisa terwujud.

Suami saya orangnya sangat baik, sangat penyayang, berhati lembut, dan sangat perhatian. Hampir semua permintaan yang saya ucapkan selalu dikabulkan. Seandainya dia sedang tidak mampu dia selalu bilang "nanti insyaallah ada rejeki nya." atau "Nanti diusahakan."

Saya diperlakukan bak seorang putri. Suami saya tidak pernah menuntut macam-macam, dia selalu membiarkan saya melakukan semua hal yang saya sukai. Menikah bersamanya adalah sebuah keberuntungan dalam hidup saya.

Tapi dalam kebahagian yang saya rasakan. Ada sesuatu yang masih mengganjal. Karena di usia pernikahan kami yang sudah menginjak 5 tahun. kami belum juga mendapat keturunan. 

Saat itu saya minder, saya takut kalau enggak bisa kasih anak saya akan ditinggalkan. Sampai suatu hari saya mem
beranikan diri untuk bertanya.

"Bagaimana kalau seandainya kita tidak punya anak?" lalu suami menjawab "Anak bukan tujuan utama ku untuk menikah, karena niat ku menikah hanya untuk ibadah."

Sujud syukur ya Allah... Ternyata lelaki baik itu memang ada. 















Mengingat Kematian

Ada yang whatsapp saya begini:
"Mba Rin, tipsnya apa sih biar romantis terus?."
Saya jawab aja: "Gampang! tinggal ingat mati aja." Sadis yah jawaban saya?
Tapi ini benar loh! Dari pengalaman saya. Setiap saya ingat mati, saya akan berusaha terus memperbaiki diri.
Awal saya mengingat kematian ini adalah awal mula saya menutup aurat. Saya takut, kalau saya tidak menutup aurat, ayah saya akan menanggung dosa-dosa saya.
Kemudian saya menikah. Mendapat suami yang baik, yang bisa menerima saya apa adanya, tanpa pernah membahas kekurangan yang saya punya.
Saya pun mencintai dia, melebihi hidup saya. Tapi kemudian saya sadar. Kalau suami cuma titipan, bahkan nyawa yang ada di dalam tubuh saya juga titipan.
Kapan saja maut bisa menjemput kami. Entah saya atau suami duluan yang akan pergi. Tapi kematian itu pasti.
Karena alasan itulah saya selalu menikmati waktu bersama. Bangun tidur, abaikan saja pekerjaan rumah!
Kenakan baju rapi, siapkan air putih, jus, dan kopi. Tanya suami mau sarapan apa?
Ini penting banget, karena waktu pagi ini benar-benar waktu yang penting untuk membuka hari. Buatlah waktu pagi seindah mungkin.
Lepas kepergian suami dengan senyuman dan doa. Karena kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi di perjalanan.
Selalu riang saat melayani. Karena kita tidak pernah tahu, kapan batas waktu yang Allah tetapkan untuk kebersamaan yang bisa dinikmati.
Percaya 100% pada suami. Urusan dia di belakang mau bagaimana? Itu terserah dia, yang penting kita tetap menjaga hati untuk tidak berprasangka buruk.
Ingat! Suami itu orang yang Allah kirim untuk menemani hidup kita.
Cintai suami kita, cintai orang-orang terdekat kita, singkirkan pikiran-pikiran negatif tentang mereka.
Selalu cintai apa yang kita miliki karena Allah. Jangan sampai setelah tiada kita menyesal.
Saya juga bukan orang baik, bukan istri yang sempurna. Dengan terus mengingat kematian, minimal bisa mengurangi dosa, dan terus berusaha memperbaiki hidup dan ibadah.
Karena dunia ini hanya tempat persinggahan, semua yang kita miliki sekarang hanya titipan.
Satu lagi. Selalu ingat! Suami adalah surga dan neraka buat istri.